Oleh : Rizkan dan Rizqoni
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan merasakan berbagai macam perasaan
atau emosi. Terkadang diliputi perasaan cinta, benci, takut, aman, tenang,
sedih, marah, cemburu, iri, dan emosi-emosi lainnya. Psikolog meneliti secara
rinci,unsur-unsur, faktor penyebab dan pengaruhnya terhadap prilaku manusia
dari aspek fisik dan mentalnya.
Kesuksesan hidup manusia dipengaruhi oleh faktor Emosional Question ( EQ),
di samping Intelegensi Question (IQ). Artinya kedua factor memberikan
kontribusi dalam kesuksesan dalam menjalani hidup dan kehidupan. Tentunya,
tidak melepaskan dari usaha dan ikhtiar lahir dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Pendidikan merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia, karena
manusia diciptakan dengan dianugerahi akal oleh tuhan. Untuk meningkatkan
kemampuan akal tersebut diperlukan pendidikan yang baik bagi peserta didik.
Yaitu pendidikan yang dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri
setiap peserta didik. Selama ini pembelajaran yang berlangsung dalam dunia
pendidikan hanya menitik beratkan pada penguasaan materi yang akan disampaikan
oleh pengajar terhadap peserta didik. Akibatnya, tidak semua peserta didik
dapat memahami apa yang disampaikan pengajar, hal itu dikarenakan sifat peserta
didik dan kemampuannya beraneka ragam.
Pembelajaran seperti itu tidak akan pernah membuat peserta didik
mengembangkan potensinya secara maksimal. Untuk itu perlu dilakukan perubahan
dalam proses pembelajaran tersebut. Psikologi pendidikan hadir dalam dunia
pendidikan untuk menjawab masalah tersebut. Menurut psikologi pendidikan
disamping penguasaan materi, pengajar juga harus mengetahui aspek-aspek lain
dalam diri peserta didik agar proses pendidikan dapat berlangsung secara
efektif dan efisien.
pendidikan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata didik yang
berarti memelihara dan memberi latihan. Dalam bahasa Inggris pendidikan disebut
education yang berasal dari kata educate, artinya memberi peningkatan dan
mengembangkan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pendidikan merupakan
proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran danpelatihan.
Sedangkan secara terminologi para ahli mengemukakan pendapatnya yang beraneka ragam dalam memahami makna psikologi pendidikan. Ini disebabkan karena cara pandang dan pendekatan yang dilakukan para ahli berbeda satu sama lain. Berikut ini beberapa definisi yang dikemukakan para ahli tentang psikologi pendidikan
Sedangkan secara terminologi para ahli mengemukakan pendapatnya yang beraneka ragam dalam memahami makna psikologi pendidikan. Ini disebabkan karena cara pandang dan pendekatan yang dilakukan para ahli berbeda satu sama lain. Berikut ini beberapa definisi yang dikemukakan para ahli tentang psikologi pendidikan
Kita dapat mengetahu pengertian dari psikologi dan pengertian
pendidikan itu sendiri.Sepanjang atau selagi kita masih berpendapat bahwa
psikologi adalah suatu ilmu yang berusaha menyelidiki semua aspek keperibadian
dasar tingkah laku manusia, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah, baik
secara teoritis maupun dengan melihat kegunaannya di dalam praktek, baik secara
individual maupun dalam hubungannya dengan manusia lain atau lingkungannya,
mungkin kita akan mengatakan bahwa ‘psikologi pendidikan’ itu sebenarnya sudah
termasuk di dalam psikologi, dan tidak perlu dipersoalkan atau dipisahkan
menjadi sesuatu disiplin ilmu tersendiri.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa saja faktor-faktor
yang mempengaruhi kecerdasan emosional ?
2.
Bagaimana ciri-ciri
kecerdasan emosional ?
3.
Kecerdasaan emosional
dalam padangan psikologi ?
4.
Kecerdsaan emosional
dalam pandangan islam ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kecerdasan Emosional
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, kecerdasan emosional
adalah “kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama
manusia, makhluk lain dan alam sekitar.” (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007:209).
Emosi adalah perasaan tertentu yang bergejolak dan dialami seseorang serta
berpengaruh pada kehidupan manusia. Emosi memang sering dikonotasikan sebagai
sesuatu yang negatif. Bahkan, pada beberapa budaya emosi dikaitkan dengan sifat
marah seseorang. Menurut Aisah Indiati (2006), sebenarnya terdapat banyak macam
ragam emosi, antara lain sedih, takut, kecewa, dan sebagainya yang semuanya
berkonotasi negatif. Emosi lain seperti senang, puas, gembira, dan lain-lain,
semuanya berkonotasi positif.[1]
Menurut Gardner, akar kata emosi adalah movere, kata kerja
Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e-” untuk
memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak
merupakan hal mutlak dalam emosi. Sehingga dikatakan bahwa emosi adalah akar
dorongan untuk bertindak.[2]
Sedangkan pengertian
kecerdasan emosional mencakup kemampuan-kemampuan mengatur keadaan emosional
diri sendiri dan memahami emosi orang lain. Menurut para ahli, kecerdasan
emosional didefinisikan sebagai berikut:
B.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan
Emosional
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat
menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang
tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan
emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan
kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan
konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh
faktor keturunan.[3]
Menurut Goleman (1997) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kecerdasan emosi individu yaitu:[4]
1. Lingkungan keluarga; kehidupan keluarga
merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Kecerdasan emosi dapat
diajarkan pada saat masih bayi melalui ekspresi. Peristiwa emosional yang
terjadi pada masa anak-anak akan melekat dan menetap secara permanen hingga
dewasa. Kehidupan emosional yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi
anak kelak dikemudian hari. Pembelajaran emosi bukan hanya melalui hal-hal yang
diucapkan dan dilakukan oleh orang tua secara langsung kepada anak-anaknya,
melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan sewaktu menangani
perasaan mereka sendiri atau perasaan yang biasa muncul antara suami dan istri.
Ada orang tua yang berbakat sebagai guru emosi yang sangat baik, ada yang
tidak.
2. Lingkungan non keluarga; hal
ini yang terkait adalah lingkungan masyarakat dan pendidikan. Kecerdasan emosi
ini berkembang sejalan dengan perkembangan fisik dan mental anak. Pembelajaran
ini biasanya ditujukan dalam suatu aktivitas bermain peran sebagai seseorang
diluar dirinya dengan emosi yang menyertai keadaan orang lain (Goleman, 1997).
Menurut Le Dove (Goleman, 1997) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
kecerdasan emosi antara lain:[5]
1. Fisik; bagian yang paling
menentukan atau paling berpengaruh terhadap kecerdasan emosi seseorang adalah
anatomi saraf emosi yang berada di otak. Bagian otak yang digunakan untuk
berfikir yaitu korteks (kadang kadang disebut juga neo korteks) yang berperan
penting dalam memahami sesuatu secara mendalam, menganalisis mengapa mengalami
perasaan tertentu dan selanjutnya berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Sebagai bagian yang berada dibagian otak yang
mengurusi emosi yaitu system limbic yang terutama bertanggung jawab atas
pengaturan emosi dan implus. Sistem limbic meliputi hippocampus, tempat
berlangsungnya proses pembelajaran emosi dan tempat disimpannya emosi. Selain
itu ada amygdala yang dipandang sebagai pusat pengendalian emosi pada otak.
2. Psikis. Kecerdasan emosi
selain dipengaruhi oleh kepribadian individu, juga dapat dipupuk dan diperkuat
dalam diri individu.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang yaitu
secara fisik dan psikis. Secara fisik terletak di bagian otak yaitu konteks dan
sistem limbic, secara psikis meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan non
keluarga.
C.
Ciri- Ciri Kecerdasan Emosional
Sampai
sekarang belum ada alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan
emosi seseorang. Walaupun demikian, ada beberapa ciri-ciri yang mengindikasi
seseorang memiliki kecerdasan emosional. Goleman menyatakan bahwa secara umum
ciri-ciri seseorang memiliki kecerdasan emosi adalah mampu memotivasi diri
sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak
melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres
tidak melumpuhkan kemampuan berfikir serta berempati dan berdoa.[6] Lebih
lanjut Salovey dalam Goleman (1996) memerinci lagi aspek-aspek kecerdasan emosi
secara khusus sebagai berikut:[7]
1. Mengenali emosi diri, yaitu kesadaran diri—mengenali perasaan sewaktu
perasaan itu terjadi—merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan untuk
memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan
psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita
yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan.
2. Mengelola
emosi, yaitu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah
kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Kemampuan mengelola emosi
meliputi kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melapaskan kecemasan,
kemurungan, atau ketersinggungan. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam
keterampilan ini akan terus-menerus bertarung melawan perasaan murung,
sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari
kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan.
3. Memotivasi diri sendiri, yaitu menata emosi sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Ini adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi
perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk
berkreasi. Kemampuan ini didasari oleh kemampuan mengendalikan emosi, yaitu
menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati. Orang-orang
yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam
hal apapun yang mereka kerjakan.
4. Mengenali emosi orang lain (empati), yaitu kemampuan yang juga begantung pada kesadaran
diri emosional, merupakan “keterampilan bergaul” dasar. Orang yang empatik
lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan
apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.
5. Membina
hubungan, yaitu keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan
keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar
pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang
apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain.
D.
Kecerdasaan Emosional Dalam Pandangan Psikologi
Istilah kecerdasan emosional pertama
kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari
YaleUniversity dan JohnMayerdariUniversity of New Hampshire. Mereka
menggambarkan kecerdasan emosional sebagai “ a form of social intelligence
that involves the ability to monitor one’s own and other’s fellings and
emotions, to discriminate among them, and to use this information to guide
one’s thinking and action “.[8] (
himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau
perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah
semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing fikiran dan
tindakan).
Definisi yang tidak jauh berbeda
dengan definisi yang dikemukakan Salovey dan Mayer di atas, dikemukakan pula
oleh Daniel goleman. Kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman adalah
kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan
memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri
dan dalam hubungan dengan orang lain”.[9]
Sedangkan rumusan definisi yang agak
berbeda dan kelihatannya lebih simpel dan aplikatif dari definisi di atas
adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Steve Hein yang mendefinisikan
kecerdasan emosional sebagai “ knowing what fells good, what fells bad and
how to get from bad to good “.[10]
(mengetahui mana perasaan-perasaan yang baik, mana yang jelek dan bagaimana
untuk mendapatkan dari yang jelek itu menjadi baik).
Di samping itu, masih banyak lagi
definisi-definisi kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh para ahli dengan
sudut pandang yang berbeda. Beberapa di antaranya memfokuskan pada keahlian
atau kecakapan kecerdasan emosional seseorang, beberapa ahli yang lain lebih
memfokuskan pada tingkah laku, dan yang lain lagi lebih memfokuskannya pada
hasil akhir (outcome).
Secara
historis, topik yang berhubungan dengan kecerdasan emosional bukanlah persoalan
yang baru sama sekali, bahkan penelitian yang berkaitan dengan ini telah
berlangsung sejak lama. Kenyataan ini didasarkan
pada sejarah yang panjang dari penelitian dan teori tentang kepribadian dan
sosial yang dilakukan oleh para psikolog.
Ketika para psikolog
mulai menulis dan berfikir tentang kecerdasan, mereka memfokuskan pada
aspek-aspek kognitif termasuk memori dan problem-solving. Bagaimanapun, ada
beberapa peneliti yang mengakui sejak semula bahwa aspek-aspek
nonkognitif juga penting. Misalnya, David Wechsler mendefinisikan kecerdasan
sebagai kumpulan atau kemampuan menyeluruh dari seseorang untuk bertindak yang
penuh tujuan, berfikir secara rasional, dan berhubungan dengan
lingkungannya secara efektif. Sejak permulaan 1940 ia mengarahkan unsur
“non-intellective” sebagaimana “intellective”, dengan yang ia maksud efektif,
pribadi dan faktor-faktor sosial. Lagipula pada permulaan 1943, Wechsler telah
mengemukakan bahwa kecakapan non-intellective sangat perlu untuk meramalkan
kemampuan seseorang untuk meraih keberhasilan dalam kehidupan.[11]
Wechsler juga bukan
satu-satunya peneliti yang memandang kecerdasan non-kognitif sebagai hal
yang penting bagi penyesuaian diri dan keberhasilan seseorang. E.L Thorndike
(1920), misalnya telah menulis tentang Kecerdasan sosial yang merupakan akar konsep
kecerdasan emosional. Thorndike mendefinisikan kecerdasan sosial sebagai “the
ability to understand and manage men and women, boys and girl – to act wisely
in human relations”(kemampuan untuk memahami dan mengatur laki-laki
dan perempuan, pemuda dan pemudi untuk berbuat secara bijaksana dalam
hubungannya dengan manusia). Sayangnya hasil karya dari perintis awal ini
sebagian besar telah terlupakan hingga pada tahun 1983 ketika Howard Gardner
mulai menulis tentang personal intelligence dalam teori multiple
intelligence-nya.
Gardner melalui
kecerdasan personalnya, telah membicarakan kecerdasan sosial. Gardner
membedakan kecerdasan personal dalam dua bagian yaitu kecerdasan interpersonal
dan intrapersonal. Ia mendefinisikannya sebagai berikut:
‘Kecerdasan antarpribadi
adalah kemampuan untuk memahami orang lain : apa yang memotivasi mereka,
bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu-membahu dengan mereka.
Tenaga-tenaga penjualan yang sukses , para guru, dokter dan pemimpin keagamaan
semuanya orang-orang yang mempunyai tingkat kecerdasan pribadi yang tinggi.
Kecerdasan intrapribadi adalah kemampuan korelatif, tetapi terarah. Ke
dalam kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk model diri sendiri yang
diteliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan model
tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif’.[12]
Kedua jenis kecerdasan
yang dikemukakan oleh Gardner ini jelas memperlihatkan kaitan yang erat dengan
pengertian kecerdasan emosional sebagaimana yang dikemukakan oleh Salovey
dan Mayer serta Goleman. Hanya saja di sini terdapat perbedaan di antara
keduanya, yaitu dalam hal ini Gardner serta rekan-rekannya tidak mengejar
secara lebih terperinci peran perasaan dalam kecerdasan, mereka lebih
memfokuskan pada pemahaman tentang perasaan dan dari sudut pandang bagaimana
kognisi melihat emosi.[13]
Fokus ini barangkali secara tidak sengaja menyebabkan belum
terjelajahinya lautan emosi yang begitu kaya dan yang membuat kehidupan
batin dan hubungan-hubungan menjadi begitu kompleks.
Sementara itu,
kecerdasan emosional menunjukkan pengelompokkan alternatif dari tugas-tugas
kecerdasan sosial. Di satu pihak kecerdasan emosional lebih luas daripada
kecerdasan sosial, yakni tidak hanya melibatkan pemikiran tentang emosi dalam
perhubungan sosial, tetapi juga pemikiran tentang emosi-emosi internal yang
penting bagi perkembangan pribadi (sebagai lawan dari sosial). Di pihak lain,
kecerdasan emosional lebih terfokus pada permasalahan-permasalahan emosional
yang melekat pada persoalan-persoalan pribadi dan sosial.[14]
Dan yang paling menonjol dalam perbedaan tersebut adalah pendekatan yang
digunakan oleh Daniel Goleman dan yang lainnya, yang lebih mengarah kepada
peranan emosi dalam pembentukan kecerdasan emosional.
Penelitian tentang
kecerdasan sosial kemudian berlanjut melalui pekerjaan penting yang dilakukan
oleh Sternberg dan Smith (1985), Cantor dan Kihlstrom (1987), Legree (1995) dan
yang lainnya. Sebagian besar dari penelitan itu menggambarkan pentingnya
pengembangan konsep kecerdasan sosial.
E.
Kecerdsaan Emosional Dalam Pandangan Islam
Kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan,
memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber
energy, informasi koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Dapat dikatakan bahwa
EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk
pemilik EQ yang baik, baginya informasi tidak hanya didapat lewat panca indra
tapi ada sumber lain dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Bahkan sumber
informasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang
didapat dari panca indra.
Hati adalah sumber keberanian dan semangat,
integritas, dan komitmen. Hati merupakan sumber energy dan perasaan terdalam
yang member dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin, dan
melayani. Keharusan memelihara hati agar tidak kotor dan rusak sangat
dianjurkan oleh Islam. Hati yang bersih dan tidak tercemar dapat memancarkan EQ
dengan baik. Diantara hal yang merusak hati dan memperlemah daya kerjanya
adalah dosa. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Quran dan Hadis Rasulullah SAW
banyak bicara tentang kesucian hati. Lihat ayat-ayat berikut ini
·
Firman-Nya dalam Al-A’raf:179 menyatakan bahwa
orang yang hatinya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya disebabkan kotor
disamakan dengan binatang, bahkan lebih hina lagi.
·
Firman-Nya dalam Al-Hajj:46 menegaskan
bahwa orang yang tidak mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya di muka
bumi adalah orang yang buta hatinya.
·
Firman-Nya dalam Al-Baqarah:74, menegaskan
bahwa orang yang hatinya tidak disinari dengan prtunjuk Allah SWT diumpamakan
lebih keras dari batu.
·
Firman-Nya dalam Fushshilat:5 menyatakan
adanya pengakuan dari orang yang tidak menindahkan petunjuk agama bahwa hati
mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat.
Mengacu pada
ayat di atas dapat disimpulkan bahwa EQ berkaitan erat dengan kehidupan
keagamaan. Apabila petunjuk agama dijadikan panduan kehidupan, maka akan
berdampak positif terhadap kecerdasan emosi. Begitu pula sebaliknya.
Agus Efendi mengutip pendapat Daniel Goleman yang
mempunyai daftar emosi yang relatif lengkap. Daftar emosi tersebut berikut cabang-cabangnya adalah
sebagai berikut:
1. Amarah (Anger)
2. Kesedihan(Sadness)
3. Rasa takut(Fear)
4. Kenikmatan (enjoyment)
5. Cinta (love)
6. Terkejut(Surprise)
7. Jengkel (Disguest)
8. Malu (Shame)[15]
Al-quran menjelaskan
berbagai macam emosi tersebut, kecerdasan Emosional (EQ) yang di ungkapkan oleh
Al-quran dalam ayat-ayat yang diberikan stressing dengan menggunakan kata yang
memiliki makna kecerdasan seperti tafakur dan sejenisnya, seperti pada surah
ar-rum : 21:
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»t#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurør& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøs9Î) @yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨uq¨B ºpyJômuur 4
¨bÎ) Îû y7Ï9ºs ;M»tUy 5Qöqs)Ïj9 tbrã©3xÿtGt ÇËÊÈ
dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(ar-rum/30:21)
pada ayat tersebut Allah Swt mengingtkan kepada
orang-orang yang berfikir, bahwa mereka telah diberikan nikmat cinta dan kasih
saying, yang mesti dikelola dengan sebaik-baiknya. Apabila mereka menggunakan
kecerdasan emosionalnya dengan mengendalikan emosinya, mengelola cinta dengan
sebaik-baiknya, maka akan melahirkan ketentraman dan kedamaian.
Rasulullah Saw Bersabda:
اية المنافق ثلاث إذا حدث
كذب و إذا وعد أخلف و إذا اؤتمن خان
Tanda orang munafiq ada tiga perkara: apabila bicara dia bohong, apabila
berjanji dia mengingkari, dan apabila dipercaya dia menghiyanati( H. R.
Bukhari)[16]
Hadits ini mengingtkan kepada kita, agar hati-hati dalam bersikap
menghadapi orang munafik.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan pembahasan
mengenai kecerdasan emosional di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan
sebagai berikut:
Pengertian
kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan
kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya
dengan orang lain.
Teori mengenai
kecerdasan emosional pertama kali dicetuskan oleh Salovey dan Mayer tahun 1990.
Sebelumnya, istilah kecerdasan emosi berasal dari konsep kecerdasan sosial yang
dikemukakan oleh Thorndike pada tahun 1920.
Goleman
menyatakan bahwa secara umum ciri-ciri seseorang memiliki kecerdasan emosi
adalah mampu memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi,
mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur
suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir
serta berempati dan berdoa
Faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan
emosi seseorang yaitu secara fisik dan psikis. Secara fisik terletak di bagian
otak yaitu konteks dan sistem limbic, secara psikis meliputi lingkungan
keluarga dan lingkungan non keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
·
Atmaja
Prawira, Purwa, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.
·
Cherniss,Cary, Emotional Intelligence: What It is and Why It Matters, (paper),2000, http://www.eicosortium.org/research/what_is_emotional_intelligence.htm.
(Diakses pada 31 Desember 2000 Pukul 16:30 WIB). mengutip Peter Salovey and
John D. Mayer, Emotional Intelligence: imagination, Cognition,and
Personality,
·
Goleman,
Daniel, Kecerdasan Emosional,
terj. T. Hermaya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.
·
Hendry,
“Definisi Kecerdasan Emosional (EQ)”, Teori-Online, http://teorionline.wordpress.com, 26 Januari 2010, diakses tanggal 14 Desember 2013.
·
Hein, Teve, EQ for Everybody; A Practical Guide to Emotional Intelligence, Aristotle Press, Florida, 1996,
·
Mayer;
et al . John D, Emotional Intelligence Meets Traditional Standards
for an Intelligence, Ablex Publishing Corporation, 1999,
http://www.eqi.org. (Diakses pada 2 April 2001 Pukul 14:30 WIB).
·
Al-Bukhari, aljami’ ash-Shahih, (Beirut,
Dar Ibn Katsir, 1987) cet. III, juz 1
.
[1]Purwa Atmaja
Prawira, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012)., 159.
[2] Daniel
Goleman, Kecerdasan Emosional, terj. T. Hermaya (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1996), 7.
[3].Hendry, “Definisi Kecerdasan
Emosional (EQ)”, Teori-Online, http://teorionline.wordpress.com, 26 Januari 2010, diakses tanggal
14 Desember 2013.
[8] . Cary Cherniss, Emotional Intelligence: What It is and Why
It Matters, (paper),2000,
http://www.eicosortium.org/research/what_is_emotional_intelligence.htm.
(Diakses pada 31 Desember 2000 Pukul 16:30 WIB). mengutip Peter Salovey and
John D. Mayer, Emotional Intelligence: imagination, Cognition,and
Personality, hlm. 212.
[9] . Daniel Goleman(a), Op-Cit.hlm. 52 mengutip
Howard Gardner, Multiple Intelligences, BasicBooks, New York, 1993, hlm.
512
[10] . teve Hein, EQ for Everybody; A Practical Guide to
Emotional Intelligence, Aristotle Press, Florida, 1996, hlm. 8.
[12] . Daniel Goleman(a), Op-Cit.hlm. 52 mengutip
Howard Gardner, Multiple Intelligences, BasicBooks, New York, 1993, hlm.
9.
[14] . John D. Mayer; et al ., Emotional Intelligence Meets
Traditional Standards for an Intelligence, Ablex Publishing Corporation,
1999, http://www.eqi.org. (Diakses pada 2 April 2001 Pukul 14:30 WIB).
[15]
.Agus Efendi, Revolusi
Kecerdasan Abad 21, h. 177
Tidak ada komentar:
Posting Komentar