Senin, 21 November 2016

Kecerdasan Emosional

Oleh : Rizkan dan Rizqoni
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan merasakan berbagai macam perasaan atau emosi. Terkadang diliputi perasaan cinta, benci, takut, aman, tenang, sedih, marah, cemburu, iri, dan emosi-emosi lainnya. Psikolog meneliti secara rinci,unsur-unsur, faktor penyebab dan pengaruhnya terhadap prilaku manusia dari aspek fisik dan mentalnya.
Kesuksesan hidup manusia dipengaruhi oleh faktor Emosional Question ( EQ), di samping Intelegensi Question (IQ). Artinya kedua factor memberikan kontribusi dalam kesuksesan dalam menjalani hidup dan kehidupan. Tentunya, tidak melepaskan dari usaha dan ikhtiar lahir dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Pendidikan merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia, karena manusia diciptakan dengan dianugerahi akal oleh tuhan. Untuk meningkatkan kemampuan akal tersebut diperlukan pendidikan yang baik bagi peserta didik. Yaitu pendidikan yang dapat mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri setiap peserta didik. Selama ini pembelajaran yang berlangsung dalam dunia pendidikan hanya menitik beratkan pada penguasaan materi yang akan disampaikan oleh pengajar terhadap peserta didik. Akibatnya, tidak semua peserta didik dapat memahami apa yang disampaikan pengajar, hal itu dikarenakan sifat peserta didik dan kemampuannya beraneka ragam.
Pembelajaran seperti itu tidak akan pernah membuat peserta didik mengembangkan potensinya secara maksimal. Untuk itu perlu dilakukan perubahan dalam proses pembelajaran tersebut. Psikologi pendidikan hadir dalam dunia pendidikan untuk menjawab masalah tersebut. Menurut psikologi pendidikan disamping penguasaan materi, pengajar juga harus mengetahui aspek-aspek lain dalam diri peserta didik agar proses pendidikan dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
pendidikan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata didik yang berarti memelihara dan memberi latihan. Dalam bahasa Inggris pendidikan disebut education yang berasal dari kata educate, artinya memberi peningkatan dan mengembangkan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran danpelatihan.
            Sedangkan secara terminologi para ahli mengemukakan pendapatnya yang beraneka ragam dalam memahami makna psikologi pendidikan. Ini disebabkan karena cara pandang dan pendekatan yang dilakukan para ahli berbeda satu sama lain. Berikut ini beberapa definisi yang dikemukakan para ahli tentang psikologi pendidikan
Kita dapat mengetahu pengertian dari psikologi dan pengertian pendidikan itu sendiri.Sepanjang atau selagi kita masih berpendapat bahwa psikologi adalah suatu ilmu yang berusaha menyelidiki semua aspek keperibadian dasar tingkah laku manusia, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah, baik secara teoritis maupun dengan melihat kegunaannya di dalam praktek, baik secara individual maupun dalam hubungannya dengan manusia lain atau lingkungannya, mungkin kita akan mengatakan bahwa ‘psikologi pendidikan’ itu sebenarnya sudah termasuk di dalam psikologi, dan tidak perlu dipersoalkan atau dipisahkan menjadi sesuatu disiplin ilmu tersendiri.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional ?
2.      Bagaimana ciri-ciri kecerdasan emosional ?
3.      Kecerdasaan emosional dalam padangan psikologi ?
4.      Kecerdsaan emosional dalam pandangan islam ?










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kecerdasan Emosional
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, kecerdasan emosional adalah “kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama manusia, makhluk lain dan alam sekitar.” (Pusat Bahasa Depdiknas, 2007:209).
Emosi adalah perasaan tertentu yang bergejolak dan dialami seseorang serta berpengaruh pada kehidupan manusia. Emosi memang sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif. Bahkan, pada beberapa budaya emosi dikaitkan dengan sifat marah seseorang. Menurut Aisah Indiati (2006), sebenarnya terdapat banyak macam ragam emosi, antara lain sedih, takut, kecewa, dan sebagainya yang semuanya berkonotasi negatif. Emosi lain seperti senang, puas, gembira, dan lain-lain, semuanya berkonotasi positif.[1]
Menurut Gardner, akar kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan “e-” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Sehingga dikatakan bahwa emosi adalah akar dorongan untuk bertindak.[2]
Sedangkan pengertian kecerdasan emosional mencakup kemampuan-kemampuan mengatur keadaan emosional diri sendiri dan memahami emosi orang lain. Menurut para ahli, kecerdasan emosional didefinisikan sebagai berikut:
B.     Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.[3]
Menurut Goleman (1997) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi individu yaitu:[4]
1.      Lingkungan keluarga; kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Kecerdasan emosi dapat diajarkan pada saat masih bayi melalui ekspresi. Peristiwa emosional yang terjadi pada masa anak-anak akan melekat dan menetap secara permanen hingga dewasa. Kehidupan emosional yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak kelak dikemudian hari. Pembelajaran emosi bukan hanya melalui hal-hal yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tua secara langsung kepada anak-anaknya, melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan sewaktu menangani perasaan mereka sendiri atau perasaan yang biasa muncul antara suami dan istri. Ada orang tua yang berbakat sebagai guru emosi yang sangat baik, ada yang tidak.
2.       Lingkungan non keluarga; hal ini yang terkait adalah lingkungan masyarakat dan pendidikan. Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan fisik dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya ditujukan dalam suatu aktivitas bermain peran sebagai seseorang diluar dirinya dengan emosi yang menyertai keadaan orang lain (Goleman, 1997).
Menurut Le Dove (Goleman, 1997) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi antara lain:[5]
1.      Fisik; bagian yang paling menentukan atau paling berpengaruh terhadap kecerdasan emosi seseorang adalah anatomi saraf emosi yang berada di otak. Bagian otak yang digunakan untuk berfikir yaitu korteks (kadang kadang disebut juga neo korteks) yang berperan penting dalam memahami sesuatu secara mendalam, menganalisis mengapa mengalami perasaan tertentu dan selanjutnya berbuat sesuatu untuk mengatasinya.  Sebagai bagian yang berada dibagian otak yang mengurusi emosi yaitu system limbic yang terutama bertanggung jawab atas pengaturan emosi dan implus. Sistem limbic meliputi hippocampus, tempat berlangsungnya proses pembelajaran emosi dan tempat disimpannya emosi. Selain itu ada amygdala yang dipandang sebagai pusat pengendalian emosi pada otak.
2.      Psikis. Kecerdasan emosi selain dipengaruhi oleh kepribadian individu, juga dapat dipupuk dan diperkuat dalam diri individu.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang yaitu secara fisik dan psikis. Secara fisik terletak di bagian otak yaitu konteks dan sistem limbic, secara psikis meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan non keluarga.
C.    Ciri- Ciri Kecerdasan Emosional
Sampai sekarang belum ada alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan emosi seseorang. Walaupun demikian, ada beberapa ciri-ciri yang mengindikasi seseorang memiliki kecerdasan emosional. Goleman menyatakan bahwa secara umum ciri-ciri seseorang memiliki kecerdasan emosi adalah mampu memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir serta berempati dan berdoa.[6] Lebih lanjut Salovey dalam Goleman (1996) memerinci lagi aspek-aspek kecerdasan emosi secara khusus sebagai berikut:[7]
1.      Mengenali emosi diri, yaitu kesadaran diri—mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi—merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan kita yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan perasaan.
2.       Mengelola emosi, yaitu menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan pas adalah kecakapan yang bergantung pada kesadaran diri. Kemampuan mengelola emosi meliputi kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melapaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan. Orang-orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terus-menerus bertarung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan.
3.      Memotivasi diri sendiri, yaitu menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Ini adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kemampuan ini didasari oleh kemampuan mengendalikan emosi, yaitu menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.
4.      Mengenali emosi orang lain (empati), yaitu kemampuan yang juga begantung pada kesadaran diri emosional, merupakan “keterampilan bergaul” dasar. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.
5.       Membina hubungan, yaitu keterampilan mengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan yang mulus dengan orang lain.
D.    Kecerdasaan Emosional Dalam Pandangan Psikologi
Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari YaleUniversity dan JohnMayerdariUniversity of  New Hampshire. Mereka menggambarkan kecerdasan emosional sebagai “ a form of social intelligence that involves the ability to monitor one’s own and other’s  fellings and emotions, to discriminate among them, and to use this information to guide one’s thinking and action “.[8] ( himpunan  bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing  fikiran dan tindakan).
Definisi yang tidak jauh berbeda dengan definisi yang dikemukakan Salovey dan Mayer di atas, dikemukakan pula oleh Daniel goleman. Kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman adalah kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain”.[9]
Sedangkan rumusan definisi yang agak berbeda dan kelihatannya lebih simpel dan aplikatif dari definisi di atas adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Steve Hein yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “ knowing what fells good, what fells bad and how to get from bad to good “.[10] (mengetahui mana perasaan-perasaan yang baik, mana yang jelek dan bagaimana untuk mendapatkan dari yang jelek itu menjadi baik).
Di samping itu, masih banyak lagi definisi-definisi kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh para ahli dengan sudut pandang yang berbeda. Beberapa di antaranya memfokuskan pada keahlian atau kecakapan kecerdasan emosional seseorang, beberapa ahli yang lain lebih memfokuskan pada tingkah laku, dan yang lain lagi lebih memfokuskannya pada hasil akhir (outcome).
Secara historis, topik yang berhubungan dengan kecerdasan emosional bukanlah persoalan yang baru sama sekali, bahkan penelitian yang berkaitan dengan ini telah berlangsung sejak lama. Kenyataan ini didasarkan pada sejarah yang panjang dari penelitian dan teori tentang kepribadian dan sosial yang dilakukan oleh para psikolog.
Ketika para psikolog mulai menulis dan berfikir tentang kecerdasan, mereka memfokuskan pada aspek-aspek kognitif termasuk memori dan problem-solving. Bagaimanapun, ada beberapa peneliti yang mengakui  sejak semula bahwa aspek-aspek nonkognitif juga penting. Misalnya, David Wechsler mendefinisikan kecerdasan sebagai kumpulan atau kemampuan menyeluruh dari seseorang untuk bertindak yang penuh tujuan, berfikir secara  rasional, dan berhubungan dengan lingkungannya secara efektif. Sejak permulaan 1940 ia mengarahkan unsur “non-intellective” sebagaimana “intellective”, dengan yang ia maksud efektif, pribadi dan faktor-faktor sosial. Lagipula pada permulaan 1943, Wechsler telah mengemukakan bahwa kecakapan non-intellective sangat perlu untuk meramalkan kemampuan seseorang untuk meraih keberhasilan dalam kehidupan.[11]
Wechsler juga bukan satu-satunya peneliti yang memandang  kecerdasan non-kognitif sebagai hal yang penting bagi penyesuaian diri dan keberhasilan seseorang. E.L Thorndike (1920), misalnya telah menulis tentang Kecerdasan sosial yang merupakan akar konsep kecerdasan emosional. Thorndike mendefinisikan kecerdasan sosial sebagai “the ability to understand and manage men and women, boys and girl – to act wisely in human relations”(kemampuan untuk memahami dan mengatur  laki-laki dan perempuan, pemuda dan pemudi untuk berbuat secara bijaksana dalam hubungannya dengan manusia). Sayangnya hasil karya dari perintis awal ini sebagian besar telah terlupakan hingga pada tahun 1983 ketika Howard Gardner mulai menulis tentang  personal intelligence dalam teori  multiple intelligence-nya.
Gardner  melalui kecerdasan personalnya, telah membicarakan  kecerdasan sosial. Gardner membedakan kecerdasan personal dalam dua bagian yaitu kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Ia mendefinisikannya sebagai berikut:
‘Kecerdasan antarpribadi adalah kemampuan untuk memahami orang lain : apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu-membahu dengan mereka. Tenaga-tenaga penjualan yang sukses , para guru, dokter dan pemimpin keagamaan semuanya orang-orang yang mempunyai tingkat kecerdasan pribadi yang tinggi. Kecerdasan intrapribadi adalah kemampuan korelatif, tetapi terarah.  Ke dalam kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk model diri sendiri yang diteliti dan mengacu pada diri serta kemampuan  untuk menggunakan model tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif’.[12]
Kedua jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner ini jelas memperlihatkan kaitan yang erat dengan pengertian kecerdasan emosional sebagaimana yang dikemukakan  oleh Salovey dan Mayer serta Goleman. Hanya saja di sini terdapat perbedaan di antara keduanya, yaitu dalam hal ini Gardner serta rekan-rekannya tidak mengejar secara lebih terperinci peran perasaan dalam kecerdasan, mereka lebih memfokuskan pada pemahaman tentang perasaan dan dari sudut pandang bagaimana kognisi melihat emosi.[13] Fokus ini barangkali secara tidak sengaja menyebabkan belum terjelajahinya  lautan emosi yang begitu kaya dan yang membuat kehidupan batin dan hubungan-hubungan menjadi begitu kompleks.
Sementara itu, kecerdasan emosional menunjukkan pengelompokkan alternatif dari tugas-tugas kecerdasan sosial. Di satu pihak kecerdasan emosional lebih luas daripada kecerdasan sosial, yakni tidak hanya melibatkan pemikiran tentang emosi dalam perhubungan sosial, tetapi juga pemikiran tentang emosi-emosi internal yang penting bagi perkembangan pribadi (sebagai lawan dari sosial). Di pihak lain, kecerdasan emosional lebih terfokus pada permasalahan-permasalahan emosional yang melekat pada persoalan-persoalan pribadi dan sosial.[14] Dan yang paling menonjol dalam perbedaan tersebut adalah pendekatan yang digunakan oleh Daniel Goleman dan yang lainnya, yang lebih mengarah kepada peranan emosi dalam pembentukan kecerdasan emosional.
Penelitian tentang kecerdasan sosial kemudian berlanjut melalui pekerjaan penting yang dilakukan oleh Sternberg dan Smith (1985), Cantor dan Kihlstrom (1987), Legree (1995) dan yang lainnya. Sebagian besar dari penelitan itu menggambarkan pentingnya pengembangan konsep kecerdasan sosial.
E.     Kecerdsaan Emosional Dalam Pandangan Islam
Kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energy, informasi koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk pemilik EQ yang baik, baginya informasi tidak hanya didapat lewat panca indra tapi ada sumber lain dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Bahkan sumber informasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra.
Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas, dan komitmen. Hati merupakan sumber energy dan perasaan terdalam yang member dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin, dan melayani. Keharusan memelihara hati agar tidak kotor dan rusak sangat dianjurkan oleh Islam. Hati yang bersih dan tidak tercemar dapat memancarkan EQ dengan baik. Diantara hal yang merusak hati dan memperlemah daya kerjanya adalah dosa. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Quran dan Hadis Rasulullah SAW banyak bicara tentang kesucian hati. Lihat ayat-ayat berikut ini
·         Firman-Nya dalam Al-A’raf:179 menyatakan bahwa orang yang hatinya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya disebabkan kotor disamakan dengan binatang, bahkan lebih hina lagi.
·           Firman-Nya dalam Al-Hajj:46 menegaskan bahwa orang yang tidak mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya di muka bumi adalah orang yang buta hatinya.
·          Firman-Nya dalam Al-Baqarah:74, menegaskan bahwa orang yang hatinya tidak disinari dengan prtunjuk Allah SWT diumpamakan lebih keras dari  batu.
·          Firman-Nya dalam Fushshilat:5 menyatakan adanya pengakuan dari orang yang tidak menindahkan petunjuk agama bahwa hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat.
Mengacu pada ayat di atas dapat disimpulkan bahwa EQ berkaitan erat dengan kehidupan keagamaan. Apabila petunjuk agama dijadikan panduan kehidupan, maka akan berdampak positif terhadap kecerdasan emosi. Begitu pula sebaliknya.
            Agus Efendi mengutip pendapat Daniel Goleman yang mempunyai daftar emosi yang relatif lengkap. Daftar emosi  tersebut berikut cabang-cabangnya adalah sebagai berikut:
1.      Amarah (Anger)
2.      Kesedihan(Sadness)
3.      Rasa takut(Fear)
4.      Kenikmatan (enjoyment)
5.      Cinta (love)
6.      Terkejut(Surprise)
7.      Jengkel (Disguest)
8.      Malu (Shame)[15]
Al-quran menjelaskan berbagai macam emosi tersebut, kecerdasan Emosional (EQ) yang di ungkapkan oleh Al-quran dalam ayat-ayat yang diberikan stressing dengan menggunakan kata yang memiliki makna kecerdasan seperti tafakur dan sejenisnya, seperti pada surah ar-rum : 21:
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ  
dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(ar-rum/30:21)
pada ayat tersebut Allah Swt mengingtkan kepada orang-orang yang berfikir, bahwa mereka telah diberikan nikmat cinta dan kasih saying, yang mesti dikelola dengan sebaik-baiknya. Apabila mereka menggunakan kecerdasan emosionalnya dengan mengendalikan emosinya, mengelola cinta dengan sebaik-baiknya, maka akan melahirkan ketentraman dan kedamaian.
Rasulullah Saw Bersabda:
اية المنافق ثلاث إذا حدث كذب و إذا وعد أخلف و إذا اؤتمن خان
Tanda orang munafiq ada tiga perkara: apabila bicara dia bohong, apabila berjanji dia mengingkari, dan apabila dipercaya dia menghiyanati( H. R. Bukhari)[16]
Hadits ini mengingtkan kepada kita, agar hati-hati dalam bersikap menghadapi orang munafik.








BAB III
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai kecerdasan emosional di atas, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
  Pengertian kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
Teori mengenai kecerdasan emosional pertama kali dicetuskan oleh Salovey dan Mayer tahun 1990. Sebelumnya, istilah kecerdasan emosi berasal dari konsep kecerdasan sosial yang dikemukakan oleh Thorndike pada tahun 1920.
Goleman menyatakan bahwa secara umum ciri-ciri seseorang memiliki kecerdasan emosi adalah mampu memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir serta berempati dan berdoa
 Faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang yaitu secara fisik dan psikis. Secara fisik terletak di bagian otak yaitu konteks dan sistem limbic, secara psikis meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan non keluarga.




DAFTAR PUSTAKA
·         Atmaja Prawira, Purwa,  Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.
·         Cherniss,Cary,  Emotional Intelligence: What It is and Why It  Matters, (paper),2000, http://www.eicosortium.org/research/what_is_emotional_intelligence.htm.  (Diakses pada 31 Desember 2000 Pukul 16:30 WIB). mengutip Peter Salovey and John D. Mayer, Emotional Intelligence: imagination, Cognition,and Personality,
·         Goleman, Daniel, Kecerdasan Emosional, terj. T. Hermaya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.
·         Hendry, “Definisi Kecerdasan Emosional (EQ)”, Teori-Online, http://teorionline.wordpress.com, 26 Januari 2010, diakses tanggal 14 Desember 2013.
·         Hein, Teve,  EQ  for Everybody; A Practical Guide to Emotional Intelligence, Aristotle Press, Florida, 1996,
·         Mayer; et al . John D, Emotional Intelligence Meets Traditional Standards for an Intelligence, Ablex Publishing Corporation, 1999,  http://www.eqi.org. (Diakses pada 2 April 2001 Pukul 14:30 WIB).
·         Al-Bukhari, aljami’ ash-Shahih, (Beirut, Dar Ibn Katsir, 1987) cet. III, juz 1
.






[1]Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012)., 159.
[2] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional, terj. T. Hermaya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), 7.
[3].Hendry, “Definisi Kecerdasan Emosional (EQ)”, Teori-Online, http://teorionline.wordpress.com, 26 Januari 2010, diakses tanggal 14 Desember 2013.

[5] . Ibid.
[6] . Goleman, Kecerdasan Emosional., 45.
[7] . .Ibid., 58-59.
[8] . Cary Cherniss, Emotional Intelligence: What It is and Why It  Matters, (paper),2000, http://www.eicosortium.org/research/what_is_emotional_intelligence.htm.  (Diakses pada 31 Desember 2000 Pukul 16:30 WIB). mengutip Peter Salovey and John D. Mayer, Emotional Intelligence: imagination, Cognition,and Personality, hlm. 212.
[9] . Daniel Goleman(a), Op-Cit.hlm. 52  mengutip Howard Gardner, Multiple Intelligences, BasicBooks, New York, 1993, hlm. 512
[10] . teve Hein, EQ  for Everybody; A Practical Guide to Emotional Intelligence, Aristotle Press, Florida, 1996, hlm. 8.
[11] .C arry Cherniss, Op.Cit.h 212
[12] . Daniel Goleman(a), Op-Cit.hlm. 52  mengutip Howard Gardner, Multiple Intelligences, BasicBooks, New York, 1993, hlm. 9.
[13] . Ibid, hal.53
[14] . John D. Mayer; et al ., Emotional Intelligence Meets Traditional Standards for an Intelligence, Ablex Publishing Corporation, 1999,  http://www.eqi.org. (Diakses pada 2 April 2001 Pukul 14:30 WIB).
[15] .Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, h. 177
[16] .Al-Bukhari, aljami’ ash-Shahih, (Beirut, Dar Ibn Katsir, 1987) cet. III, juz 1, h. 21